"DEWI"
By:
Naiea D'queen
Embun pagi yang turun dalam diamnya mentari. Suara angin yang berhembus menyentuh luka yang telah lama tertutup kabut. Seakan menyetujui langkah kaki yang perlahan menjadi bias dan tak pasti.
Banyak yang bersuara namun mereka berbalas sapa, sebanyak hati yang terjatuh ke dalam halusnya angan kata-kata tak bermakna.
Disitulah dewi menyembunyikan asmanya, menghentikan hembusan nafasnya, dan membiarkan raganya mengalir bersama suara gemuruh air yang riak dan tak bertepi.
Siul burung-burung itu berirama, menimbulkan getar suara yang ikut sibuk mengisi ruang bebas di sekitar raga tak berjiwaku.
"Jika cinta sepahit ini, maka bagaimana dengan neraka?", hening tak bergama.
Bahkan sang dewi membutuhkan dayang-dayang untuk sekedar menyandarkan segala keluhnya daripada harus terlihat bermuram sedih di depan Sang Dewa.