Rabu, 08 Januari 2014

Dewi

"DEWI"
By:
Naiea D'queen

Embun pagi yang turun dalam diamnya mentari. Suara angin yang berhembus menyentuh luka yang telah lama tertutup kabut. Seakan menyetujui langkah kaki yang perlahan menjadi bias dan tak pasti.

Banyak yang bersuara namun mereka berbalas sapa, sebanyak hati yang terjatuh ke dalam halusnya angan kata-kata tak bermakna.

Disitulah dewi menyembunyikan asmanya, menghentikan hembusan nafasnya, dan membiarkan raganya mengalir bersama suara gemuruh air yang riak dan tak bertepi.

Siul burung-burung itu berirama, menimbulkan getar suara yang ikut sibuk mengisi ruang bebas di sekitar raga tak berjiwaku.

"Jika cinta sepahit ini, maka bagaimana dengan neraka?", hening tak bergama. 

Bahkan sang dewi membutuhkan dayang-dayang untuk sekedar menyandarkan segala keluhnya daripada harus terlihat bermuram sedih di depan Sang Dewa.

Senin, 30 Desember 2013

Catatan Untukmu, cinta dan air mataku

Cinta dan Air Mataku
by : Naiea D'Queen

Ketika itu, hujan badai menyapaku
Tersinari seberkas cahaya lilin yg berteman hening
Menetes, membanjiri kedua belah pipiku
Air mata suci itu terjatuh dan berbicara


Sedikitpun tak mampu terdengar
Suara hati yg terlanjur parau, lirih..
Menyiratkan sejuta luka tentang cintaku
Ternodai jarak dan waktu


Sekejap harapan dan keyakinan itu membias
Namun matahari tdk pernah salah atas biasnya cahaya di lautan
Dan lagi..
Terjatuh dalam isakan yg menyesak di dada


Love is painful and tears never lie
Hening kembali menyapaku...
Angin yg berhembus tidak seperti biasanya
Air mata bersaksi atas cintaku